hari ini di penghujung tanggal 31 Desember, sekaligus penghujung tahun 2013.
Suasana
kota banda Aceh 9mungkin juga seluruh aceh) mendung dan hujan
rintik-rintik menyemarak suasana bagi penggelana agar terjerebab ke
tempat tidur dan mendengkur..
Namun memurungkan wajah si pencari
bingar tahun baru, karena spanduk bertumpah ruah untuk melarang perayaan
tahun baru, satpol PP dan juga WH ikut berjamur di sepanjang jalan,
seakan-akan perayaan tahun baru adalah penyakit yang harus segera di
congkel keluar..
ah lupakan saja mereka..
aku??
jangan tanya aku...!!
planning ku semua buyar..!!
ke pulau, ke kota tinggi atau ke... lupakan..!!
aku tidak ingin mengingat untuk sejenak.
toh, kuda besiku sudah dua bulan belum di servis.
Mencoba
menghilangkan suntuk, aku kembali membuka lembar-perlembar kenanngan
gambar (foto) yang pernah kutoreskan bersama mereka sahabat-sahabatku..
Bersama
Evi dan fitria kami pernah menuju puncak goh lumoe. Dasar memang nekat,
kala itu tidak satupun dari kami pernah menjejakkan kaki di puncak itu.
sore tepat pukul 16.00 WIB setelah mengisi air untuk perbekalan di
rumah penduduk dan meminta izin dari geuchik desa lam guron, kami pun
bergerak menuju pintu rimba. kala itu belum ada anak tangga beton
seperti sekarang. Hutannya juga masih rimbun dan kebun belum banyak yang
di bersihkan.
Seperti biasa, berdoa selalu dilakukan sebelum pendakian.
Perbekalan
kami bawa pun tidak begitu banyak, hanya daypack kecil di punggung
masing-masing yang sudah terisi tenda, trangia, SB, Baju ganti, Parang,
sayur mayur, beras, piring en gelas, spritus, Jerigen dan perkakas
lainnya yang sudah terbagi rata.
Kala itu Butet yang
paling kecil di antar aku dan badak (asikkan kalau di panggil badak :P
), posturnya imut-imut namun tenaganya kuda. tidak pernah mengeluh
selama perjalanan, dan selalu tertawa lepas. ah itu perempuan memang
sangat jago kalau sudah di depan trangia, dia akan betah berlama-lama
mengolah makanan, kemudian dilanjutkan dengan menyeduh kopi dan mengolah
makanan lainnya.
Nyaris kami tidak bertemu dengan
peladang selama kami melintas, terlihat di kiri kanan jalur yang kami
tempuh, pohon cengkeh yang sudah besar dan banyak namun tertutup oleh
semak belukar, terlihat sekali kalau ini kebun yang dimiliki penduduk
namun di tinggalkan ketika masa konflik memanas di Aceh. Tidak hanya
cengkeh, namun pohon durian yang tinggi-tinggi ikut menyemarakkan
perjalanan, namun tidak jauh berbeda dengan pohon cengkeh tadi pohon
durian juga bersaing ketat dengan semak belukar yang padat.
Diantara
semak tersebut di penghujung jalan setapak yang kecil kami menemukan
sebuah pondok yang kerap di pakai oleh peladang, namun pondok itu tidak
terlalu terurus, seperti rusak dimakan waktu, walu terlihat beulangong
tanoh dan batee seumeupeh yang tersusun rapi.
Dari pondok kecil di dalam hutan itu kami mengambil jalur kekanan.
Alhamdulillah
kami membawa parang kecil, sehingga jika ada belukar yang menghambat di
dalam perjalanan segera kami tebas. dari sini pendakian sudah mulai
terlihat berbeda dengan jalur yang kami tempuh tadi, jalur sudah mulai
curam dan padat dengan semak belukar di beberapa titik.
Jangan tanya semangat kami, masiiih full... :D
Ehm..
sedikit aku perkenalkan si badak ini, kalau butet tenaga kuda maka
badak ini memang bertenaga badak, maklum saja saya, perempuan ini
berasal dari dataran tinggi gayo yang berkelok-kelok, wajar saja
tenaganya badak, sitiap hari dia di tempa oleh alam takengon untuk naik
turun lembah diantara kebun kopi yang padat. Perempuan ini begitu
tangguh dan juga penyuka gunung, tenaganya selalu ada seakan-akan "power
bank" ikut menyertai setiap langkahnya.. heran saya... :P
Jujur
aku sangat menyukai perjalanan jika dilakukan satu tim perempuan semua,
aku bisa lega dari kepanasan karena bisa membuka kerudung, sehingga
semilir angin bisa langsung membasuh peluh (nikmatnya). Dan tentu saja
bebas untuk berekspresi, dan tidak perlu canggung :D
(hal yang sama dirasakan jika perjalanan di lakukan oleh laki-laki saja)
Disepanjang
perjalanan, sekali-kali kami berhenti apalagi jika di tempat itu
pemandangannya begitu indah memandang lautan dari sela-sela pepohonan
apalagi angin semilir berhembus dan menerpa wajah..
Kami bertiga
berjalan beriringan, kadangkala badak di depan, butet di tengah dan aku
di belakang, sesekali formasi itu juga berubah, menjadi butet, badak
dan aku atau aku, butet dan badak. Semua mengalir begitu saja, karena
tidak ada leader di tim kami. :)
Ada salah satu bagian
yang aku senangi, di lereng yang batuannya begitu rapuh, harus
berhati-hati dalam melangkah dan berpegangan, namun diantara perdu dan
semak, diatas sebuat tebing yang tidak terlalu tinggi kami bisa berdiri
sambil menikmati pemandangan yang begitu indah setelah melewati canopi
hutan yang lumayan padat walaupun tidak terlalu tinggi, sedikit
pemandangan merupakan bonus yang tidak terkira, berdiri sejenak sambil
meresapi belaian angin (kalau kata Gie :D )
Perjalanan
santai, diantara semak-semak yang tajam, bebatuan yang cadas (karena goh
leumo merupakan kawasan batuan karst ), angin semilir berhembus, kami
begitu menikmati perjalanan walau kadang sedikit berbicara karena
pengaturan nafas yang perlu di tatar dengan baik dan juga mencoba
mencerna dengan hati akan setiap hal-hal baru dari langkah baru yang
tertapaki. Alam sangat bersahabat, cerah.
Goh Leumo, salah
satu gunung yang paling berdekatan dengan kota Banda aceh, terletak di
Aceh Besar. Bisa di daki melalui desa Lam Guron, Desa Lam badeuk maupun
dari lhok nga, kalau tidak salah gunung itu juga termasuk paling banyak
jalurnya, dari mulai jalur peladang hingga jalur yang di buat oleh
pendaki (Anak MAPALA)
Maka jika salah pengambilan jalur, maka anda
akan berhadapan dengan tebing yang curam, yang susah untuk didaki (jika
tidak membawa alat), kecuali mencari jalur baru lagi.
Setelah
melewati lereng yang terjal kemudian kami berada di punggungan yang
sangat nyaman, karena begitu teduh dan tenang. Dan daerah ini juga
termasuk bagian yang paling aku senangi karena begitu damai berada di
bawah pepohonan yang menjulang tinggi dengan tumpukan serasah yang
menebal di bawahnya dan juga akar pepohonan yang memintal padat
seakan-akan memberikan janji kepada kita jika tanah disini aman dan
tidak akan tergerus oleh air hujan yang lebat. Sampai disini sudah sore,
kami harus mempercepat langkah kami menuju ke sisi kiri, dengan target
puncak. Diantara banir pohon tersebut kami bergerak cepat dan teratur,
suasana sore dan pepohonan yang semakin padat membuat suasana di hutan
menjadi gelap..
Kemudian kami berjumpa sebuah
persimpangan, satu jalur menuju kekiri dan agak sedikit menurun serta
rimbun sedangkan jalur satu lagi menuju kekanan dan sedikit mendaki,
kami bingung di jalur ini, dan suasana hutan telah menjadi gelap,
akhirnya aku mencoba berjalan kesisi kiri (entah mengapa aku begitu
yakin kesana) kemudian badak memanggilku dari belakang
"kemana cel, itu menurun..!"
"gak pa-pa Aku coba lihat dulu jalurnya.."
dan beberapa langkah di depan aku melihat sebuah drum besar yang di pakai untuk menampung air,
"ada drum besar disini... kemungkinan kemari jalurnya.." seru ku..
Kami
pun mencoba menyusur jalur itu diantara kegelapan senja, dan memang
jalur itu jalur menuju puncak, memang agak sedikit menurun sebelum
tanjakan, mungkin jalur itu di buat untuk menghindari semak belukar yang
lebat disisinya...
Alhamdulillah pilar terlihat dengan sangat gagah, kami tiba dari sisi kiri pilar,
pada
saat itu kami begitu lega, terdengar sayup-sayup dari jauh suara azan
yang berkumandang, dan tepat pukul 19.00 WIB kami sampai ke puncak..
:D
bahagia rasanya..
Tanpa
Berleha-leha kami mulai berbagi tugas tanpa ada yang mengkomandoi,
masing-masing tau diri untuk tidak diam dan bergerak berbuat sesuatu,
mengeluarkan tenda, dan mendirikannya bersama-sama, kemudian mencari
kayu dan memasak untuk makan malam..
lelah itu tergantikan kawan, dengan kerlipan lampu yang begitu riuh di bawah..
dan malam itu kami menikmati dengan secangkir kopi dan api unggun yang anggun...||
malam ini??
aku melawatinya di rumah bersama dinding-dinding dingin ini...
rindu kalian badak dan butet.. :*
No comments:
Post a Comment