Friday, April 12, 2013

percintaan yang tidak ada ujungnya..



kerika aku mencoba membolak-balik tulisan yang belum rampung termasuk ini.. :D

1 December 2012
Langit cintakan laut…
Angin itu mendesah pelan, meraba hati untuk tenang. Menyaksikan birunya langit memadu kasih dengan birunya air laut. Berdua, mereka begitu mesra. Menyatu dalam simphony keindahan yang dalam.
Aku masih nyaman menatap indahnya perpaduan itu, sembari memeluk lututku, aku duduk di bawah sebuah pohon kelapa dengan beralaskan pasir putih yang empuk.
Menatap sepasng kekasih -laut dan langit- membuatku cemburu sangat. Mereka begitu serasi.
Angin berhembus sepoi-sepoi dan memisikkan kata-kata cinta yang diucapkan langit kepada lautan. Kata angin laut sedang merayu langit dengan buaian cinta.
“kau dengar, tadi langit merayu laut dengan mesra?” bisik angin padaku
Mataku bergerak-gerak bgitu juga dengan telingaku. Lalu kujawab
“aku tidak mendengar sepatah katapun wahai angin, bisakkah kamu bisikkan apa yang sedang mereka bicaraka?”
“aku ingin jua masuk diantara gelora cinta merah jambu itu yang sedang mereka rasakan”
“Aku ingin merasakan cinta itu” ujarku bertubi- tubi ke pada angin
“aku melihat mereka begitu serasi, lihatlah gerakan laut begitu lembut serasa di mabuk asmara yang begitu dalam, dan aku menyukai gerakan genit penuh birahi itu” ujarku pelan.
“Tahukan kamu jika langit memuji dalam laut, “kamu begitu menggugah duhai kekasihku laut, selalu membuatku mendamba, ingin rasanya membawamu bersama kehujung langit ke tujuh. Ke puncak nan jauh diasana ketempat yang tidak pernah sedikitpun bisa di lukiskan oleh hal lain di muka bumi ini. Akan kutunjukkan keindahan danlam sigma-sigma warna yang memukau. Duhai laut, kamu membuatku dahaga akan cinta, ingin rasanya kurengguk dirimu. Dan tidak akan membiarkan yang lain menyentuh dan menodaimu”
Dan laut begitu tersipu mendengar rayuan cinta langit.  Sehingga gerakan tubuhnya terlihat melembut dan romantis, bersemu-semulah dia.
“… langit.. aku merindu cinta utuh, dan aku takut, terbersit dalam hatiku ini jika kata-katamu ini akan hanya berawal dari ujung lidahmu yang begitu memikat, bagaimana bisa aku pastikan jika rayuan mu itu berasal dari palung hatimu yang terdalam? Dan aku takut terluka parah”
“duhai kekasihku lautan yang biru, apa yang harus aku lakukan padamu untuk membuktikan cintaku yang begitu tinggi dan luas ini? Apakah aku harus meledakkan semua gemintang itu dan dan menaburkannya atas lukaku agar kamu mengerti akan rasa cintaku padamu yang begitu membengkak.?”
Ujar langit yang mulai gelisah ketika cinta besarnya dipertanyakan.
“duhai langit biru, aku takut jika petirmu akan membuat darahku mengering dan membakar seluruh pesonaku. Aku takut tergerus, takut dan takut karena kau pernah terluka parah oleh secuil hati ini”.

“apa yang harus kulakukan wahai pesona keindahan..?”
“aku tidak ingin juntaian kata-kata rayuan yang tentu saja membuat aku sakau dan mati..!”
Kau bisa melihat jika aku bersemu merah ketika merayuku, aku menyukai rayuanmu. Aku menyukai gerakanmu dan tubuhmu. Tatapanmu membuat aku lemas dan mati rasa. Seringaimu membuat aku semakun jatuh parah dalam cintamu.”
Sungguh langit kamu begitu sempurna dalam bola mataku, begitu indah dan wangi tubuhmu adalh racun yang selalu kupuja disetiap desah nafasku”. Membayangkan rupa mu sudah cukup membuat aku tenang. Dan  tahukah kamu jika aku tersesat dalam kelebat bola matamu yang begitu romantis”
Langit merasa girang dan berbinar ketika lautan _dambaan hatinya- yang memujinya kini. Matanya berbinar.
“namun lngit. Aku ingin menggoreskan namamu dalam lantai terdasar dari hatiku. Menyemat namamu dalam dadaku hingga ke akhir. Tersesat dalam kelebat matamu untuk selamanya. Dan wajahmu terproyeksikan sempurna dalam hidupku. Namun langit aku tidak ingin memilikimu seutuhnya, aku tidak ingin menyentuhmu dan aku tidak ingin kamu benar-benar hadir dalam hidupku.. aku ingin kamu hanya jadi gambir hidup..
“Tapi kenapa” potong langit dengan kasar dan putus asa.
“mengertilah awan, aku tidak ingin kamu benar-benar hadir dalam kehidupanmu. Biarlah kamu tetap jadi potret paling kukagumi selamanya untuk hidupku, biarlah kita menepi dan berjauhan”
LAngit mulai putus asa dengan ungkapan laut yang tidak menerima cintanya yang begitu besar sehingga tidak sanggup dipikulnya itu.
“ku mohon laut, terimalah aku” pintanya yang begitu putus asa...
Dan langit yang tadi begitu cerah dan membiru sekarang bergerak gelap.. gerimis mulai berjatuhan..
Langit mulai menangisi rasa hatinya tersayat dan tersakiti
“aku mohon laut, terimalah aku”
“dan aku mohon padamu langit untuk mengerti keputusan ku ini. Jika aku sudah memutuskan takkan ada siapapun yang bisa mengubahnya walaupun kamu sendiri. Lelaki yang selalu kupuja dan kamu harus menghargai itu”.
Rasa sakit langit begitu dalam..
Terlihat wajahnya makin gelap dan hitam. Teriakan menggelagar membahana se antero bumi. Gelegar petir sahut menyahut”
Dan inilah yang paling aku takuti akan mu, karena kamu akan membunuhku dengan rasa cintamu itu.

No comments:

Post a Comment