kerika aku mencoba membolak-balik tulisan yang belum rampung termasuk ini.. :D
1 December 2012
Langit cintakan laut…
Angin itu mendesah pelan, meraba hati untuk tenang.
Menyaksikan birunya langit memadu kasih dengan birunya air laut. Berdua, mereka
begitu mesra. Menyatu dalam simphony keindahan yang dalam.
Aku masih nyaman menatap indahnya perpaduan itu, sembari
memeluk lututku, aku duduk di bawah sebuah pohon kelapa dengan beralaskan pasir
putih yang empuk.
Menatap sepasng kekasih -laut dan langit- membuatku cemburu
sangat. Mereka begitu serasi.
Angin berhembus sepoi-sepoi dan memisikkan kata-kata cinta
yang diucapkan langit kepada lautan. Kata angin laut sedang merayu langit
dengan buaian cinta.
“kau dengar, tadi langit merayu laut dengan mesra?” bisik
angin padaku
Mataku bergerak-gerak bgitu juga dengan telingaku. Lalu
kujawab
“aku tidak mendengar sepatah katapun wahai angin, bisakkah
kamu bisikkan apa yang sedang mereka bicaraka?”
“aku ingin jua masuk diantara gelora cinta merah jambu itu
yang sedang mereka rasakan”
“Aku ingin merasakan cinta itu” ujarku bertubi- tubi ke pada
angin
“aku melihat mereka begitu serasi, lihatlah gerakan laut
begitu lembut serasa di mabuk asmara yang begitu dalam, dan aku menyukai
gerakan genit penuh birahi itu” ujarku pelan.
“Tahukan kamu jika langit memuji dalam laut, “kamu begitu
menggugah duhai kekasihku laut, selalu membuatku mendamba, ingin rasanya
membawamu bersama kehujung langit ke tujuh. Ke puncak nan jauh diasana ketempat
yang tidak pernah sedikitpun bisa di lukiskan oleh hal lain di muka bumi ini.
Akan kutunjukkan keindahan danlam sigma-sigma warna yang memukau. Duhai laut,
kamu membuatku dahaga akan cinta, ingin rasanya kurengguk dirimu. Dan tidak
akan membiarkan yang lain menyentuh dan menodaimu”
Dan laut begitu tersipu mendengar rayuan cinta langit. Sehingga gerakan tubuhnya terlihat melembut dan
romantis, bersemu-semulah dia.
“… langit.. aku merindu cinta utuh, dan aku takut, terbersit
dalam hatiku ini jika kata-katamu ini akan hanya berawal dari ujung lidahmu
yang begitu memikat, bagaimana bisa aku pastikan jika rayuan mu itu berasal
dari palung hatimu yang terdalam? Dan aku takut terluka parah”
“duhai kekasihku lautan yang biru, apa yang harus aku
lakukan padamu untuk membuktikan cintaku yang begitu tinggi dan luas ini?
Apakah aku harus meledakkan semua gemintang itu dan dan menaburkannya atas
lukaku agar kamu mengerti akan rasa cintaku padamu yang begitu membengkak.?”
Ujar langit yang mulai gelisah ketika cinta besarnya
dipertanyakan.
“duhai langit biru, aku takut jika petirmu akan membuat
darahku mengering dan membakar seluruh pesonaku. Aku takut tergerus, takut dan
takut karena kau pernah terluka parah oleh secuil hati ini”.
“apa yang harus kulakukan wahai pesona keindahan..?”
“aku tidak ingin juntaian kata-kata rayuan yang tentu saja
membuat aku sakau dan mati..!”
Kau bisa melihat jika aku bersemu merah ketika merayuku, aku
menyukai rayuanmu. Aku menyukai gerakanmu dan tubuhmu. Tatapanmu membuat aku
lemas dan mati rasa. Seringaimu membuat aku semakun jatuh parah dalam cintamu.”
Sungguh langit kamu begitu sempurna dalam bola mataku,
begitu indah dan wangi tubuhmu adalh racun yang selalu kupuja disetiap desah
nafasku”. Membayangkan rupa mu sudah cukup membuat aku tenang. Dan tahukah kamu jika aku tersesat dalam kelebat
bola matamu yang begitu romantis”
Langit merasa girang dan berbinar ketika lautan _dambaan
hatinya- yang memujinya kini. Matanya berbinar.
“namun lngit. Aku ingin menggoreskan namamu dalam lantai terdasar
dari hatiku. Menyemat namamu dalam dadaku hingga ke akhir. Tersesat dalam
kelebat matamu untuk selamanya. Dan wajahmu terproyeksikan sempurna dalam
hidupku. Namun langit aku tidak ingin memilikimu seutuhnya, aku tidak ingin
menyentuhmu dan aku tidak ingin kamu benar-benar hadir dalam hidupku.. aku
ingin kamu hanya jadi gambir hidup..
“Tapi kenapa” potong langit dengan kasar dan putus asa.
“mengertilah awan, aku tidak ingin kamu benar-benar hadir
dalam kehidupanmu. Biarlah kamu tetap jadi potret paling kukagumi selamanya
untuk hidupku, biarlah kita menepi dan berjauhan”
LAngit mulai putus asa dengan ungkapan laut yang tidak
menerima cintanya yang begitu besar sehingga tidak sanggup dipikulnya itu.
“ku mohon laut, terimalah aku” pintanya yang begitu putus
asa...
Dan langit yang tadi begitu cerah dan membiru sekarang
bergerak gelap.. gerimis mulai berjatuhan..
Langit mulai menangisi rasa hatinya tersayat dan tersakiti
“aku mohon laut, terimalah aku”
“dan aku mohon padamu langit untuk mengerti keputusan ku
ini. Jika aku sudah memutuskan takkan ada siapapun yang bisa mengubahnya
walaupun kamu sendiri. Lelaki yang selalu kupuja dan kamu harus menghargai
itu”.
Rasa sakit langit begitu dalam..
Terlihat wajahnya makin gelap dan hitam. Teriakan
menggelagar membahana se antero bumi. Gelegar petir sahut menyahut”
Dan inilah yang paling aku takuti akan mu, karena kamu akan
membunuhku dengan rasa cintamu itu.
No comments:
Post a Comment