hujan....
Banyak yang mengatakan jika hujan itu membawa berkah..
Namun berbanding terbalik dengan beberapa penduduk yang tinggal di kawasan yang sangat rentan terhadap suatu kondisi yang bernama "banjir" atau tergenang air...
Begitu juga dengan kakakku yang tinggal di Pidie Jaya, di suatu kampung bernama Tepin Pukatyang sedang mengalami pelebaran jalan untuk memuat kenderaan roda 2 dan roda 4 yang kian banyak.
"semenjak ada tanggul itu, setiap hujan datang, maka air akan tergenang"
serunya sambil melepas pandangan kehalaman rumah yang sudah tergenang air, dan becek..
padahal hujan hanya mengguyur satu hari.
[bagaimana jika mengguyur sampai 2 atau 3 hari]
Hal ini tidak jauh berbeda dengan ucapan kak zakiah siang tadi...
"Karena hujan semalam, air merembes masuk ke dapur hingga ke mata kaki, padahal dulu tidak pernah. Itu karena di buat got, jadi ketika hujan turun, air tidak tau mengalir kemana.."
Dan ucapan itu sering sekali aku mendengar dari beberapa orang, bukan dari kakak ku saja ataupun dari kak zakiah.
Dan ketika hujan mengguyur kota banda aceh, maka air hujan akan menggenang di beberapa tempat, nah yang anehnya justru air tersebut menggenang bertepatan di sebelah saluran air (darinase) yang di buat untuk mengalirkan air tersebut.
Aneh...
Jadi fungsi drainase itu untuk apa??
atau ada yang salah dengan tata letak atau pembangunan darinase itu sendiri.
Hujan juga menjadi juri yang sangat pasti untuk memperlihatkan hasil kinerja dari pemerintah dalam membuat saluran air.. [juri yang tidak bicara, namun memperlihatkan segalanya]
jika memang saluran air itu bagus maka ketika hujan, air tidak akan tergenang,namunyang terjadi justru sebaliknya. bahkan di beberapa titik air menggenang parah.
Keheranan justru bertambah lagi, jika ingin membandingkan hasil buatan belanda [yang konon katanya penjajah itu] hasil bangunan mereka berdiri kokoh hingga ratusan tahun dan masih dapat berfungsi dengan baik hingga sekarang, dan mereka membuatnya dengan pertimbangan yang cukup baik dan di bangun sebelum dunia ini canggih dan modern (dengan perlengkapan yang sangat manual).
Seharusnya dengan perkembangan dunia yang semakin canggih dan modern ini, pembangunan yang telah di buat menghasilkan karya yang jauh LEBIH bagus dari pada hasil karya belanda yang dibuat ratusan tahun yang lalu.
NAMUN...
Lihatlah buah karya dari anak negeri untuk negerinya sekarang ini.
di buat di jaman modern dengan tehnology yang canggih sekarang, Namun hasilnya justru sangat buruk..
contohnya saja drainase tersebut..
seakan-akan drainase itu dibangun tanpa memiliki fungsi apapun, di buat hanya untuk menambah asesoris tata ruang saja..
Malam kian larut, dan hujan melai kembali mengguyur kota ku, memberikan rahmat yang Allah berikan yang tidak jua padam..
Keserakahan manusia yang membuatnya menjadi petaka bagi rakyat kecil...
Hujan laksana doa bagi Alam.. ,Mendoakan bumi dengan segala bentuk yang di berikan..
kesejahteraan bagi alam yang kering, kehidupan bagi tanah yang gersang.
dan hujan [air] adalah sumber dan cikal bakal kehidupan.
tak dapat di pungkiri.
Sambil menikmati suara hujan yang mulai berdendang di atas seng, aku kembali menyeruput seteguh cairan hitam, kopi.
Gut nite, berkah untuk semua ||
Rangkaian kata yang harus di keluarkan dari otakku.. agar bisa bernafas lega walau sejenak..
Friday, January 3, 2014
Thursday, January 2, 2014
Pergantian tahun dan sedikit mengulang memori
hari ini di penghujung tanggal 31 Desember, sekaligus penghujung tahun 2013.
Suasana kota banda Aceh 9mungkin juga seluruh aceh) mendung dan hujan rintik-rintik menyemarak suasana bagi penggelana agar terjerebab ke tempat tidur dan mendengkur..
Namun memurungkan wajah si pencari bingar tahun baru, karena spanduk bertumpah ruah untuk melarang perayaan tahun baru, satpol PP dan juga WH ikut berjamur di sepanjang jalan, seakan-akan perayaan tahun baru adalah penyakit yang harus segera di congkel keluar..
ah lupakan saja mereka..
aku??
jangan tanya aku...!!
planning ku semua buyar..!!
ke pulau, ke kota tinggi atau ke... lupakan..!!
aku tidak ingin mengingat untuk sejenak.
toh, kuda besiku sudah dua bulan belum di servis.
Mencoba menghilangkan suntuk, aku kembali membuka lembar-perlembar kenanngan gambar (foto) yang pernah kutoreskan bersama mereka sahabat-sahabatku..
Bersama Evi dan fitria kami pernah menuju puncak goh lumoe. Dasar memang nekat, kala itu tidak satupun dari kami pernah menjejakkan kaki di puncak itu. sore tepat pukul 16.00 WIB setelah mengisi air untuk perbekalan di rumah penduduk dan meminta izin dari geuchik desa lam guron, kami pun bergerak menuju pintu rimba. kala itu belum ada anak tangga beton seperti sekarang. Hutannya juga masih rimbun dan kebun belum banyak yang di bersihkan.
Seperti biasa, berdoa selalu dilakukan sebelum pendakian.
Perbekalan kami bawa pun tidak begitu banyak, hanya daypack kecil di punggung masing-masing yang sudah terisi tenda, trangia, SB, Baju ganti, Parang, sayur mayur, beras, piring en gelas, spritus, Jerigen dan perkakas lainnya yang sudah terbagi rata.
Kala itu Butet yang paling kecil di antar aku dan badak (asikkan kalau di panggil badak :P ), posturnya imut-imut namun tenaganya kuda. tidak pernah mengeluh selama perjalanan, dan selalu tertawa lepas. ah itu perempuan memang sangat jago kalau sudah di depan trangia, dia akan betah berlama-lama mengolah makanan, kemudian dilanjutkan dengan menyeduh kopi dan mengolah makanan lainnya.
Nyaris kami tidak bertemu dengan peladang selama kami melintas, terlihat di kiri kanan jalur yang kami tempuh, pohon cengkeh yang sudah besar dan banyak namun tertutup oleh semak belukar, terlihat sekali kalau ini kebun yang dimiliki penduduk namun di tinggalkan ketika masa konflik memanas di Aceh. Tidak hanya cengkeh, namun pohon durian yang tinggi-tinggi ikut menyemarakkan perjalanan, namun tidak jauh berbeda dengan pohon cengkeh tadi pohon durian juga bersaing ketat dengan semak belukar yang padat.
Diantara semak tersebut di penghujung jalan setapak yang kecil kami menemukan sebuah pondok yang kerap di pakai oleh peladang, namun pondok itu tidak terlalu terurus, seperti rusak dimakan waktu, walu terlihat beulangong tanoh dan batee seumeupeh yang tersusun rapi.
Dari pondok kecil di dalam hutan itu kami mengambil jalur kekanan.
Alhamdulillah kami membawa parang kecil, sehingga jika ada belukar yang menghambat di dalam perjalanan segera kami tebas. dari sini pendakian sudah mulai terlihat berbeda dengan jalur yang kami tempuh tadi, jalur sudah mulai curam dan padat dengan semak belukar di beberapa titik.
Jangan tanya semangat kami, masiiih full... :D
Ehm.. sedikit aku perkenalkan si badak ini, kalau butet tenaga kuda maka badak ini memang bertenaga badak, maklum saja saya, perempuan ini berasal dari dataran tinggi gayo yang berkelok-kelok, wajar saja tenaganya badak, sitiap hari dia di tempa oleh alam takengon untuk naik turun lembah diantara kebun kopi yang padat. Perempuan ini begitu tangguh dan juga penyuka gunung, tenaganya selalu ada seakan-akan "power bank" ikut menyertai setiap langkahnya.. heran saya... :P
Jujur aku sangat menyukai perjalanan jika dilakukan satu tim perempuan semua, aku bisa lega dari kepanasan karena bisa membuka kerudung, sehingga semilir angin bisa langsung membasuh peluh (nikmatnya). Dan tentu saja bebas untuk berekspresi, dan tidak perlu canggung :D
(hal yang sama dirasakan jika perjalanan di lakukan oleh laki-laki saja)
Disepanjang perjalanan, sekali-kali kami berhenti apalagi jika di tempat itu pemandangannya begitu indah memandang lautan dari sela-sela pepohonan apalagi angin semilir berhembus dan menerpa wajah..
Kami bertiga berjalan beriringan, kadangkala badak di depan, butet di tengah dan aku di belakang, sesekali formasi itu juga berubah, menjadi butet, badak dan aku atau aku, butet dan badak. Semua mengalir begitu saja, karena tidak ada leader di tim kami. :)
Ada salah satu bagian yang aku senangi, di lereng yang batuannya begitu rapuh, harus berhati-hati dalam melangkah dan berpegangan, namun diantara perdu dan semak, diatas sebuat tebing yang tidak terlalu tinggi kami bisa berdiri sambil menikmati pemandangan yang begitu indah setelah melewati canopi hutan yang lumayan padat walaupun tidak terlalu tinggi, sedikit pemandangan merupakan bonus yang tidak terkira, berdiri sejenak sambil meresapi belaian angin (kalau kata Gie :D )
Perjalanan santai, diantara semak-semak yang tajam, bebatuan yang cadas (karena goh leumo merupakan kawasan batuan karst ), angin semilir berhembus, kami begitu menikmati perjalanan walau kadang sedikit berbicara karena pengaturan nafas yang perlu di tatar dengan baik dan juga mencoba mencerna dengan hati akan setiap hal-hal baru dari langkah baru yang tertapaki. Alam sangat bersahabat, cerah.
Goh Leumo, salah satu gunung yang paling berdekatan dengan kota Banda aceh, terletak di Aceh Besar. Bisa di daki melalui desa Lam Guron, Desa Lam badeuk maupun dari lhok nga, kalau tidak salah gunung itu juga termasuk paling banyak jalurnya, dari mulai jalur peladang hingga jalur yang di buat oleh pendaki (Anak MAPALA)
Maka jika salah pengambilan jalur, maka anda akan berhadapan dengan tebing yang curam, yang susah untuk didaki (jika tidak membawa alat), kecuali mencari jalur baru lagi.
Setelah melewati lereng yang terjal kemudian kami berada di punggungan yang sangat nyaman, karena begitu teduh dan tenang. Dan daerah ini juga termasuk bagian yang paling aku senangi karena begitu damai berada di bawah pepohonan yang menjulang tinggi dengan tumpukan serasah yang menebal di bawahnya dan juga akar pepohonan yang memintal padat seakan-akan memberikan janji kepada kita jika tanah disini aman dan tidak akan tergerus oleh air hujan yang lebat. Sampai disini sudah sore, kami harus mempercepat langkah kami menuju ke sisi kiri, dengan target puncak. Diantara banir pohon tersebut kami bergerak cepat dan teratur, suasana sore dan pepohonan yang semakin padat membuat suasana di hutan menjadi gelap..
Kemudian kami berjumpa sebuah persimpangan, satu jalur menuju kekiri dan agak sedikit menurun serta rimbun sedangkan jalur satu lagi menuju kekanan dan sedikit mendaki, kami bingung di jalur ini, dan suasana hutan telah menjadi gelap, akhirnya aku mencoba berjalan kesisi kiri (entah mengapa aku begitu yakin kesana) kemudian badak memanggilku dari belakang
"kemana cel, itu menurun..!"
"gak pa-pa Aku coba lihat dulu jalurnya.."
dan beberapa langkah di depan aku melihat sebuah drum besar yang di pakai untuk menampung air,
"ada drum besar disini... kemungkinan kemari jalurnya.." seru ku..
Kami pun mencoba menyusur jalur itu diantara kegelapan senja, dan memang jalur itu jalur menuju puncak, memang agak sedikit menurun sebelum tanjakan, mungkin jalur itu di buat untuk menghindari semak belukar yang lebat disisinya...
Alhamdulillah pilar terlihat dengan sangat gagah, kami tiba dari sisi kiri pilar,
pada saat itu kami begitu lega, terdengar sayup-sayup dari jauh suara azan yang berkumandang, dan tepat pukul 19.00 WIB kami sampai ke puncak..
:D
bahagia rasanya..
Tanpa Berleha-leha kami mulai berbagi tugas tanpa ada yang mengkomandoi, masing-masing tau diri untuk tidak diam dan bergerak berbuat sesuatu, mengeluarkan tenda, dan mendirikannya bersama-sama, kemudian mencari kayu dan memasak untuk makan malam..
lelah itu tergantikan kawan, dengan kerlipan lampu yang begitu riuh di bawah..
dan malam itu kami menikmati dengan secangkir kopi dan api unggun yang anggun...||
malam ini??
aku melawatinya di rumah bersama dinding-dinding dingin ini...
rindu kalian badak dan butet.. :*
Suasana kota banda Aceh 9mungkin juga seluruh aceh) mendung dan hujan rintik-rintik menyemarak suasana bagi penggelana agar terjerebab ke tempat tidur dan mendengkur..
Namun memurungkan wajah si pencari bingar tahun baru, karena spanduk bertumpah ruah untuk melarang perayaan tahun baru, satpol PP dan juga WH ikut berjamur di sepanjang jalan, seakan-akan perayaan tahun baru adalah penyakit yang harus segera di congkel keluar..
ah lupakan saja mereka..
aku??
jangan tanya aku...!!
planning ku semua buyar..!!
ke pulau, ke kota tinggi atau ke... lupakan..!!
aku tidak ingin mengingat untuk sejenak.
toh, kuda besiku sudah dua bulan belum di servis.
Mencoba menghilangkan suntuk, aku kembali membuka lembar-perlembar kenanngan gambar (foto) yang pernah kutoreskan bersama mereka sahabat-sahabatku..
Bersama Evi dan fitria kami pernah menuju puncak goh lumoe. Dasar memang nekat, kala itu tidak satupun dari kami pernah menjejakkan kaki di puncak itu. sore tepat pukul 16.00 WIB setelah mengisi air untuk perbekalan di rumah penduduk dan meminta izin dari geuchik desa lam guron, kami pun bergerak menuju pintu rimba. kala itu belum ada anak tangga beton seperti sekarang. Hutannya juga masih rimbun dan kebun belum banyak yang di bersihkan.
Seperti biasa, berdoa selalu dilakukan sebelum pendakian.
Perbekalan kami bawa pun tidak begitu banyak, hanya daypack kecil di punggung masing-masing yang sudah terisi tenda, trangia, SB, Baju ganti, Parang, sayur mayur, beras, piring en gelas, spritus, Jerigen dan perkakas lainnya yang sudah terbagi rata.
Kala itu Butet yang paling kecil di antar aku dan badak (asikkan kalau di panggil badak :P ), posturnya imut-imut namun tenaganya kuda. tidak pernah mengeluh selama perjalanan, dan selalu tertawa lepas. ah itu perempuan memang sangat jago kalau sudah di depan trangia, dia akan betah berlama-lama mengolah makanan, kemudian dilanjutkan dengan menyeduh kopi dan mengolah makanan lainnya.
Nyaris kami tidak bertemu dengan peladang selama kami melintas, terlihat di kiri kanan jalur yang kami tempuh, pohon cengkeh yang sudah besar dan banyak namun tertutup oleh semak belukar, terlihat sekali kalau ini kebun yang dimiliki penduduk namun di tinggalkan ketika masa konflik memanas di Aceh. Tidak hanya cengkeh, namun pohon durian yang tinggi-tinggi ikut menyemarakkan perjalanan, namun tidak jauh berbeda dengan pohon cengkeh tadi pohon durian juga bersaing ketat dengan semak belukar yang padat.
Diantara semak tersebut di penghujung jalan setapak yang kecil kami menemukan sebuah pondok yang kerap di pakai oleh peladang, namun pondok itu tidak terlalu terurus, seperti rusak dimakan waktu, walu terlihat beulangong tanoh dan batee seumeupeh yang tersusun rapi.
Dari pondok kecil di dalam hutan itu kami mengambil jalur kekanan.
Alhamdulillah kami membawa parang kecil, sehingga jika ada belukar yang menghambat di dalam perjalanan segera kami tebas. dari sini pendakian sudah mulai terlihat berbeda dengan jalur yang kami tempuh tadi, jalur sudah mulai curam dan padat dengan semak belukar di beberapa titik.
Jangan tanya semangat kami, masiiih full... :D
Ehm.. sedikit aku perkenalkan si badak ini, kalau butet tenaga kuda maka badak ini memang bertenaga badak, maklum saja saya, perempuan ini berasal dari dataran tinggi gayo yang berkelok-kelok, wajar saja tenaganya badak, sitiap hari dia di tempa oleh alam takengon untuk naik turun lembah diantara kebun kopi yang padat. Perempuan ini begitu tangguh dan juga penyuka gunung, tenaganya selalu ada seakan-akan "power bank" ikut menyertai setiap langkahnya.. heran saya... :P
Jujur aku sangat menyukai perjalanan jika dilakukan satu tim perempuan semua, aku bisa lega dari kepanasan karena bisa membuka kerudung, sehingga semilir angin bisa langsung membasuh peluh (nikmatnya). Dan tentu saja bebas untuk berekspresi, dan tidak perlu canggung :D
(hal yang sama dirasakan jika perjalanan di lakukan oleh laki-laki saja)
Disepanjang perjalanan, sekali-kali kami berhenti apalagi jika di tempat itu pemandangannya begitu indah memandang lautan dari sela-sela pepohonan apalagi angin semilir berhembus dan menerpa wajah..
Kami bertiga berjalan beriringan, kadangkala badak di depan, butet di tengah dan aku di belakang, sesekali formasi itu juga berubah, menjadi butet, badak dan aku atau aku, butet dan badak. Semua mengalir begitu saja, karena tidak ada leader di tim kami. :)
Ada salah satu bagian yang aku senangi, di lereng yang batuannya begitu rapuh, harus berhati-hati dalam melangkah dan berpegangan, namun diantara perdu dan semak, diatas sebuat tebing yang tidak terlalu tinggi kami bisa berdiri sambil menikmati pemandangan yang begitu indah setelah melewati canopi hutan yang lumayan padat walaupun tidak terlalu tinggi, sedikit pemandangan merupakan bonus yang tidak terkira, berdiri sejenak sambil meresapi belaian angin (kalau kata Gie :D )
Perjalanan santai, diantara semak-semak yang tajam, bebatuan yang cadas (karena goh leumo merupakan kawasan batuan karst ), angin semilir berhembus, kami begitu menikmati perjalanan walau kadang sedikit berbicara karena pengaturan nafas yang perlu di tatar dengan baik dan juga mencoba mencerna dengan hati akan setiap hal-hal baru dari langkah baru yang tertapaki. Alam sangat bersahabat, cerah.
Goh Leumo, salah satu gunung yang paling berdekatan dengan kota Banda aceh, terletak di Aceh Besar. Bisa di daki melalui desa Lam Guron, Desa Lam badeuk maupun dari lhok nga, kalau tidak salah gunung itu juga termasuk paling banyak jalurnya, dari mulai jalur peladang hingga jalur yang di buat oleh pendaki (Anak MAPALA)
Maka jika salah pengambilan jalur, maka anda akan berhadapan dengan tebing yang curam, yang susah untuk didaki (jika tidak membawa alat), kecuali mencari jalur baru lagi.
Setelah melewati lereng yang terjal kemudian kami berada di punggungan yang sangat nyaman, karena begitu teduh dan tenang. Dan daerah ini juga termasuk bagian yang paling aku senangi karena begitu damai berada di bawah pepohonan yang menjulang tinggi dengan tumpukan serasah yang menebal di bawahnya dan juga akar pepohonan yang memintal padat seakan-akan memberikan janji kepada kita jika tanah disini aman dan tidak akan tergerus oleh air hujan yang lebat. Sampai disini sudah sore, kami harus mempercepat langkah kami menuju ke sisi kiri, dengan target puncak. Diantara banir pohon tersebut kami bergerak cepat dan teratur, suasana sore dan pepohonan yang semakin padat membuat suasana di hutan menjadi gelap..
Kemudian kami berjumpa sebuah persimpangan, satu jalur menuju kekiri dan agak sedikit menurun serta rimbun sedangkan jalur satu lagi menuju kekanan dan sedikit mendaki, kami bingung di jalur ini, dan suasana hutan telah menjadi gelap, akhirnya aku mencoba berjalan kesisi kiri (entah mengapa aku begitu yakin kesana) kemudian badak memanggilku dari belakang
"kemana cel, itu menurun..!"
"gak pa-pa Aku coba lihat dulu jalurnya.."
dan beberapa langkah di depan aku melihat sebuah drum besar yang di pakai untuk menampung air,
"ada drum besar disini... kemungkinan kemari jalurnya.." seru ku..
Kami pun mencoba menyusur jalur itu diantara kegelapan senja, dan memang jalur itu jalur menuju puncak, memang agak sedikit menurun sebelum tanjakan, mungkin jalur itu di buat untuk menghindari semak belukar yang lebat disisinya...
Alhamdulillah pilar terlihat dengan sangat gagah, kami tiba dari sisi kiri pilar,
pada saat itu kami begitu lega, terdengar sayup-sayup dari jauh suara azan yang berkumandang, dan tepat pukul 19.00 WIB kami sampai ke puncak..
:D
bahagia rasanya..
Tanpa Berleha-leha kami mulai berbagi tugas tanpa ada yang mengkomandoi, masing-masing tau diri untuk tidak diam dan bergerak berbuat sesuatu, mengeluarkan tenda, dan mendirikannya bersama-sama, kemudian mencari kayu dan memasak untuk makan malam..
lelah itu tergantikan kawan, dengan kerlipan lampu yang begitu riuh di bawah..
dan malam itu kami menikmati dengan secangkir kopi dan api unggun yang anggun...||
malam ini??
aku melawatinya di rumah bersama dinding-dinding dingin ini...
rindu kalian badak dan butet.. :*
Saturday, December 28, 2013
28 Desember 2013
Menghitung hari menuju ke pergantian tahun 2013.
Menghitung setiap jam, serta merenung perjalanan hidup di tahun ini yang berjalan di tempat tanpa ada yang istimewa dan menantang..
Terlalu lenbay..!!
ehm klo di bilang tidak ada perjalanan menarik mungkin aku sangat salah menilau sendiri..
yups..
Mari di ralat, perjalanan tidak menarik disini mungkin dari segi akademis dan kemerdekaan finansial yang belam juga terteguk dengan pantas dan nikmat.
Yups.. Akademis ku sungguh lumayan buruk pada tahun ini, tidak ada perkembangan yang significan, dan berjalan sangat datar dan apa adanya.
Bukan untuk merutuku keadaan, hanya kecewa dengan diri sendiri yang belum bisa menghandle serta menjaga waktu dengan baik dan tertib.
Semua dikendalikan oleh keinginan dan hawa nafsu belaka.
Terlalu sering mentolerir atau bersikap permisif terhadap diri sendiri.
Bertolak belakang dengan nasehat bung Mario, karena pemuda adalah pejuang..
OMG...
Rasa ku untuk bersuang kian melemah..
terantuk dalam pusaran kebosanan dan menguap di penghujung samudera.
Menghitung setiap jam, serta merenung perjalanan hidup di tahun ini yang berjalan di tempat tanpa ada yang istimewa dan menantang..
Terlalu lenbay..!!
ehm klo di bilang tidak ada perjalanan menarik mungkin aku sangat salah menilau sendiri..
yups..
Mari di ralat, perjalanan tidak menarik disini mungkin dari segi akademis dan kemerdekaan finansial yang belam juga terteguk dengan pantas dan nikmat.
Yups.. Akademis ku sungguh lumayan buruk pada tahun ini, tidak ada perkembangan yang significan, dan berjalan sangat datar dan apa adanya.
Bukan untuk merutuku keadaan, hanya kecewa dengan diri sendiri yang belum bisa menghandle serta menjaga waktu dengan baik dan tertib.
Semua dikendalikan oleh keinginan dan hawa nafsu belaka.
Terlalu sering mentolerir atau bersikap permisif terhadap diri sendiri.
Bertolak belakang dengan nasehat bung Mario, karena pemuda adalah pejuang..
OMG...
Rasa ku untuk bersuang kian melemah..
terantuk dalam pusaran kebosanan dan menguap di penghujung samudera.
Friday, December 27, 2013
27 Desember 2013
Hari ini ternyata hari Jumat...
ah aku lupa...
Pagi menjelang siang aku keluar dari sangkarku dan menuju sebuah warung kopi langganan di tengah kota banda aceh untuk menikmati secangkir kopi hitam dan sarapan pagi..
Beberapa hari ini aku muak melihat hp.
Banyak kerjaan yang belum aku selesaikan dan tidak aku coba selesaikan.
aku serasa mau muntah dan depresi stuck hebat.
Kalau kata kak yanti,
"kok bisa stuck?? dan aku belum pernah merasakan stuck hingga sekarang, kecuali jika suatu hari nanti terjadi sesuatu dengan ayahku dan aku harus membiayai adik-adikku maka disitu aku akan merasa stuck.."
Pungkas kak yant;i pada suatu hari ketika bertanya kepadaku tentang aku menggalau seharian.
dan aku tahu penyakitku adalah menunda pekerjaan.
Hal itulah yang membuat kepala dan hatiku tidak tenang.
dan celakuanya lagi walaupun aku menyadari dengan sangat baik dan dalam keadaan sesadarnya bahwa penyebab penyakit jiwaku itu namun aku tidak menyembuhkannya dan malah membuatnya semakin larut dan larut.. Bodoh...!!!
..
Kembali tentang hari ini, aku menyesap kopi hitam yang nikmat sekali, seakan menjadi penyegar otakku yang mulai bungkam.
Menyeruput dalam dan nikmat.
dan aku selali menyukai aroma kopi.
Tidak seperti kebosanan yang membunuh, maka tidak dengan aroma dan rasa kopi, aromanya menyegarkan dan disesap nikmat
kembali dengan rutinitas, maka aku merasa seperti orang yang tidak memiliki peta di tangan dan aku buntu akan semua perjalanan hidup. Membuntu daiantara banyak pilihanyang belum jua menenangkan hidupku.
Aku...
dan terus saja banyak perasaan yang menghantam otakku.
Dan selalu saja aku merasa kehidupanku berjalan MELAMBAT dan sangat PELAN
Berharap agar akhir tahun ini berakhir dengan mengambil semua kebosanan dan kebusukan hidupku.
Sehingga kelak ketika aku menjalani tahun beru depan, maka aku akan menjadi jiwa baru dengan keberkahan ilmu dan kesuksesan hidup, berhenti merutuki dan belajar IHklash. :D
Siron, 26 Desember 2013
Sayup-sayup terdengar pengumuman yang di sampaikan dari mesjid kampungku.
Pengumuman bagi kaum adam untuk segera melangkah menuju ke mesjid, gotong royang persiapan Peringatan tsunami yang akan dilaksakan besok [26 Desember 2013]
Tak terasa sudah lebih sewindu tsunami menerjang Aceh.
Seakan seperti gong kecil di otakku yang berdetang-detang untuk mengingatkan agar aku menyempatkan diri "mengunjungi" adikku dan keluarga yang lain yang telah berpulang pada tanggal 26 Desember 2004 silam.
26 Desember 2013.
Pagi ini, matahari enggan menampakkan diri, seakan ikut lebur dan merasakan duka yang mendalang kala 26 Desember 2004 silam.
Langit tidak cerah, namun begitu syahdu.
aku berangkat menuju desa siron di kawasan Lambaro Aceh Besar.
Mengunjungi "perisrahatan" adikku dan keluarga besar telah berpulang yang kami yakini berada disana.
Sesampai disana, aku tidak sendirian, ternyata sudah banyak mobil pick up yang telah berdiri rapi dengan atap terpal buatan untuk penahan hujan, motor dan juga mobil keluarga.
Jiwa terasa berbeda ketika mulai melangkah turun dari motor.
Aku tidak bisa mengungkapkan apa yang bergemuruh di hatiku, rasa rindu yang bercampur sedih mengingat adikku yang telah berpulang.
Perlahan aku menuju ke tempat wudhu dan membasuhkan diri dengan berwudhuk.
tenang
Setelah membenarkan kembali jelbabku, aku melangkah menuju ke arah kuburan massal yang di pisahkan oleh dinding selutut yang bisa di pakai untuk duduk untuk berdoa menghadap kekuburan tersebut yang tertutub rumput...
Aku memilih duduk menjauh dari banyak orang, dan menjauh dari panteu yang di buat khusus untuk berdoa, dan duduk berada di belakang monumen kecil berbentik piramid.
Mengambil Alquran kecil di dalam tas, dan membuka halaman 440 mencari surah yasin.
Memulai dengan membaca Bismillah, aku mulai berdoa dalam hati untuk kelapangan kubur adikku dan saudaraku dan banyak lagi...
Aku mulai tidak kuat, dan tidak terasa air mata mengalir di pipi, oh Tuhan aku merindu dia, adikku.
...
Tanggal 24 Desember 2004 [hari jumat] aku diantar adik lelakiku menuju ke setui, disana ayah menungguku untuk kembali ke jantho [kampung tempat aku dibesarkan].
Entah mengapa tanpa tau alasannya ketika aku memandang terus kepergiannya, sedih tak tau mengapa.
Dan hari itu aku terakhir melihat adikku.
Ketika hari Sabtu kakak ikut kembali ke Jantho, ternyata adikku tidak ikut, katanya dia mau kembali hari minggu.
Dan benar dia kembali pada hari munggu, Kembali ke pangkuan Rabb dengan Alasan Tsunami.
...
Selesai membaca yasin dan menenangkan diri, aku kembali berdoa agar segala kerahmatan dan Cinta Allah selalu terlimpahkan buat mereka dan kami yang di tinggalkan..
Dan aku melangkah pulang kembali kerealita dan peradaban, setelah kelegaan "mengunjungi" adikku dan keluarga yang lain disini, desa Siron, Lambaro
Pengumuman bagi kaum adam untuk segera melangkah menuju ke mesjid, gotong royang persiapan Peringatan tsunami yang akan dilaksakan besok [26 Desember 2013]
Tak terasa sudah lebih sewindu tsunami menerjang Aceh.
Seakan seperti gong kecil di otakku yang berdetang-detang untuk mengingatkan agar aku menyempatkan diri "mengunjungi" adikku dan keluarga yang lain yang telah berpulang pada tanggal 26 Desember 2004 silam.
26 Desember 2013.
Pagi ini, matahari enggan menampakkan diri, seakan ikut lebur dan merasakan duka yang mendalang kala 26 Desember 2004 silam.
Langit tidak cerah, namun begitu syahdu.
aku berangkat menuju desa siron di kawasan Lambaro Aceh Besar.
Mengunjungi "perisrahatan" adikku dan keluarga besar telah berpulang yang kami yakini berada disana.
Sesampai disana, aku tidak sendirian, ternyata sudah banyak mobil pick up yang telah berdiri rapi dengan atap terpal buatan untuk penahan hujan, motor dan juga mobil keluarga.
Jiwa terasa berbeda ketika mulai melangkah turun dari motor.
Aku tidak bisa mengungkapkan apa yang bergemuruh di hatiku, rasa rindu yang bercampur sedih mengingat adikku yang telah berpulang.
Perlahan aku menuju ke tempat wudhu dan membasuhkan diri dengan berwudhuk.
tenang
Setelah membenarkan kembali jelbabku, aku melangkah menuju ke arah kuburan massal yang di pisahkan oleh dinding selutut yang bisa di pakai untuk duduk untuk berdoa menghadap kekuburan tersebut yang tertutub rumput...
Aku memilih duduk menjauh dari banyak orang, dan menjauh dari panteu yang di buat khusus untuk berdoa, dan duduk berada di belakang monumen kecil berbentik piramid.
Mengambil Alquran kecil di dalam tas, dan membuka halaman 440 mencari surah yasin.
Memulai dengan membaca Bismillah, aku mulai berdoa dalam hati untuk kelapangan kubur adikku dan saudaraku dan banyak lagi...
Aku mulai tidak kuat, dan tidak terasa air mata mengalir di pipi, oh Tuhan aku merindu dia, adikku.
...
Tanggal 24 Desember 2004 [hari jumat] aku diantar adik lelakiku menuju ke setui, disana ayah menungguku untuk kembali ke jantho [kampung tempat aku dibesarkan].
Entah mengapa tanpa tau alasannya ketika aku memandang terus kepergiannya, sedih tak tau mengapa.
Dan hari itu aku terakhir melihat adikku.
Ketika hari Sabtu kakak ikut kembali ke Jantho, ternyata adikku tidak ikut, katanya dia mau kembali hari minggu.
Dan benar dia kembali pada hari munggu, Kembali ke pangkuan Rabb dengan Alasan Tsunami.
...
Selesai membaca yasin dan menenangkan diri, aku kembali berdoa agar segala kerahmatan dan Cinta Allah selalu terlimpahkan buat mereka dan kami yang di tinggalkan..
Dan aku melangkah pulang kembali kerealita dan peradaban, setelah kelegaan "mengunjungi" adikku dan keluarga yang lain disini, desa Siron, Lambaro
Wednesday, December 25, 2013
24 Desember 2013, menjelang akhir tahun
Rumput tetangga memang selalu lebih hijau.
kadang kala pepatah itu memang benar adanya [bagi saya terutama].
ehm..
tapi yang harus digaris bawahi adalah penempatan kata "kadang"
kata "kadang" ini menindentifikasikan kepada sesekali, [artinya tidak selalu]
dalam hal ini saya tidak akan membuat perandaian orang, tapi merujuk kepada saya saja.
nah, begini ceritanya.
[macam dongeng aja :) ]
Ketika mendengar ibukota, hal yang langsung terbayang dibenak saya adalah "macet",
yach, aku sangat membenci bergerak pelan, bahkan terkadang stuck dengan kondisi gerah dan panas di dalam sebuah angkotan umum, belum lagi dengan iringan dendangan lagu dari pengamen yang memekakkan telinga, itu baru satu kata,
belum lagi pedagang yang berserakan di sepanjang jalan, diatas trotoar [yang seharusnya di pakai untuk pejalan kaki -_- ], diantara ruko-ruko sempit, di bawah pepohonan rindang, hingga kepinggir jalan dan memakai badan jalan, nah yang lebih parah lagi jika ada adengan "pasar tumpah",
belum lagi ada adegan angkot yang bergerak "semau guwe", berimpit-impit, ngetem di pinggir jalan dan terlalu banyak,
ah, itu hanya sedikit saja yang berhadir dalam bayangan otak saya, belum lagi pemandangan para gembel yang memprihatinkan, para lansia yang tidur di trotoar jalan [kasihan], sungai yang berwarna hitam, sampah yang berserakan hingga pengap karena gedung yang semakin tinggi mencakar langit.
... baiklah, pending saja, padahal tadi saya ingin menambahkan beberapa lembar foto, namun berhubung koneksinya sangat buruk, maka kita batalkan saja ;)...
kembali lagi ke kata ibukota, pada intinya yang terbayang adalah keruwetan, macet, berisik, udara kotor, sungai yang jorok, angkot yang berjibun, pedagang kaki yang tidak tertib, motor yang berlimpah .... dll
ah, sudah seperti rutukan saja..
tapi di kota besar, mengajarkan makna dari kerja keras, kemauan, kedisiplinan, berhemat, kemandirian, ketekunan, menghargai kehidupan bahkan menghargai pekerjaan yang sudah anda dapatkan sekarang, karena mencari pekerjaan sangatlah susah disana apalagi bagi seseorang yang tidak memiliki skill khusus dan pendidikan yang mampuni [yang berijazah saja sangat sukar mendapatkan pekerjaan apalagi yang tidak memilikinya].
di kota besar semua berjalan begitu cepa, dan bahkan semua orang harus berlari untuk mengerjakan sesuatu, karena jika dia tidak sigap, cepat dan gesit maka orang lain sudah siap menghadang dan menjungkalnya untuk keluar dari posisi yang sudah di dapatkannya dan tentu saja siap menggantikannya.
memang berat persaingan disana, maka jangan heran jika banyak orang bekerja bertahun-tahun pada bidang yang tidak disukainya sama sekali dan dia bertahan karena persoalan ekonomi yang mendesak dan tentu saja alasan susahnya mendapatkan pekerjaan di kota besar.
Menghargai kehidupan.
Mengapa dengan penggalan frasa diatas..?
begini, dari keruwetan ibu kota, seperti yang sudah saya katakan tadi banyak dari para pekerja yang mengerjakan hal-hal yang tidak disenanginya namun tetap saja harus dikerjakan karena tuntutan ekonomi yang semakin besar, nach bagi penderita hal ini, saran yang saya adalah menghargai kehidupan yang sudah anda da[atkan sekarang.
bukan berada pada stuck, namun disebalik upaya anda untuk mendapatkan pekerjaan yang berkesesuaian dengan selera anda maka menggalan frasa diatas harus anda terapkan lebih dahulu.
menghargai bisa berkonotasi pada makna mensyukuri.
kata syukur menbuat hati menjadi lapang dan luas dari impitan perasaan "terpaksa" karena deadline kantor dan bos yang judes.
bagaimanapun pekerjaan yang telah anda dapatkan sekarang maka menghargai apa yang sudah kita punya sekarang menjadi pointer yang sangat besar, karena jika kata menghargai itu tidak berhadir maka tentu saja kata syukur itu tidak ada maka jangan harapkan ketenangan dalam jiwa dan diri anda akan anda dapatkan.
Hal ini tentu saja sangat beresiko pada detak jantung anda yang kurang stabil, tekanan darah yang selalu meninggi, raut muka yang selalu kaku maka resiko terserang penyakit akan menjadi tinggi..
Alangkah baiknya memang jika mendapatkan pekerjaan yang berkesesuian dengan minat, tapi mengerjakan apa yang sudah anda dapatkan sekarang dengan syukur yang berlimpah tidak buruk tentunya.
maka disini anda akan belajar "berikhlash" di sepanjang waktu dengan disertai rasa syukur atas apa yang anda dapatkan sekarang.
maka jiwa dan hati anda kan lebih damai dan tenang. Maka raut wajah menjadi cerah dan hidup :D
kadang kala pepatah itu memang benar adanya [bagi saya terutama].
ehm..
tapi yang harus digaris bawahi adalah penempatan kata "kadang"
kata "kadang" ini menindentifikasikan kepada sesekali, [artinya tidak selalu]
dalam hal ini saya tidak akan membuat perandaian orang, tapi merujuk kepada saya saja.
nah, begini ceritanya.
[macam dongeng aja :) ]
Ketika mendengar ibukota, hal yang langsung terbayang dibenak saya adalah "macet",
yach, aku sangat membenci bergerak pelan, bahkan terkadang stuck dengan kondisi gerah dan panas di dalam sebuah angkotan umum, belum lagi dengan iringan dendangan lagu dari pengamen yang memekakkan telinga, itu baru satu kata,
belum lagi pedagang yang berserakan di sepanjang jalan, diatas trotoar [yang seharusnya di pakai untuk pejalan kaki -_- ], diantara ruko-ruko sempit, di bawah pepohonan rindang, hingga kepinggir jalan dan memakai badan jalan, nah yang lebih parah lagi jika ada adengan "pasar tumpah",
belum lagi ada adegan angkot yang bergerak "semau guwe", berimpit-impit, ngetem di pinggir jalan dan terlalu banyak,
ah, itu hanya sedikit saja yang berhadir dalam bayangan otak saya, belum lagi pemandangan para gembel yang memprihatinkan, para lansia yang tidur di trotoar jalan [kasihan], sungai yang berwarna hitam, sampah yang berserakan hingga pengap karena gedung yang semakin tinggi mencakar langit.
... baiklah, pending saja, padahal tadi saya ingin menambahkan beberapa lembar foto, namun berhubung koneksinya sangat buruk, maka kita batalkan saja ;)...
kembali lagi ke kata ibukota, pada intinya yang terbayang adalah keruwetan, macet, berisik, udara kotor, sungai yang jorok, angkot yang berjibun, pedagang kaki yang tidak tertib, motor yang berlimpah .... dll
ah, sudah seperti rutukan saja..
tapi di kota besar, mengajarkan makna dari kerja keras, kemauan, kedisiplinan, berhemat, kemandirian, ketekunan, menghargai kehidupan bahkan menghargai pekerjaan yang sudah anda dapatkan sekarang, karena mencari pekerjaan sangatlah susah disana apalagi bagi seseorang yang tidak memiliki skill khusus dan pendidikan yang mampuni [yang berijazah saja sangat sukar mendapatkan pekerjaan apalagi yang tidak memilikinya].
di kota besar semua berjalan begitu cepa, dan bahkan semua orang harus berlari untuk mengerjakan sesuatu, karena jika dia tidak sigap, cepat dan gesit maka orang lain sudah siap menghadang dan menjungkalnya untuk keluar dari posisi yang sudah di dapatkannya dan tentu saja siap menggantikannya.
memang berat persaingan disana, maka jangan heran jika banyak orang bekerja bertahun-tahun pada bidang yang tidak disukainya sama sekali dan dia bertahan karena persoalan ekonomi yang mendesak dan tentu saja alasan susahnya mendapatkan pekerjaan di kota besar.
Menghargai kehidupan.
Mengapa dengan penggalan frasa diatas..?
begini, dari keruwetan ibu kota, seperti yang sudah saya katakan tadi banyak dari para pekerja yang mengerjakan hal-hal yang tidak disenanginya namun tetap saja harus dikerjakan karena tuntutan ekonomi yang semakin besar, nach bagi penderita hal ini, saran yang saya adalah menghargai kehidupan yang sudah anda da[atkan sekarang.
bukan berada pada stuck, namun disebalik upaya anda untuk mendapatkan pekerjaan yang berkesesuaian dengan selera anda maka menggalan frasa diatas harus anda terapkan lebih dahulu.
menghargai bisa berkonotasi pada makna mensyukuri.
kata syukur menbuat hati menjadi lapang dan luas dari impitan perasaan "terpaksa" karena deadline kantor dan bos yang judes.
bagaimanapun pekerjaan yang telah anda dapatkan sekarang maka menghargai apa yang sudah kita punya sekarang menjadi pointer yang sangat besar, karena jika kata menghargai itu tidak berhadir maka tentu saja kata syukur itu tidak ada maka jangan harapkan ketenangan dalam jiwa dan diri anda akan anda dapatkan.
Hal ini tentu saja sangat beresiko pada detak jantung anda yang kurang stabil, tekanan darah yang selalu meninggi, raut muka yang selalu kaku maka resiko terserang penyakit akan menjadi tinggi..
Alangkah baiknya memang jika mendapatkan pekerjaan yang berkesesuian dengan minat, tapi mengerjakan apa yang sudah anda dapatkan sekarang dengan syukur yang berlimpah tidak buruk tentunya.
maka disini anda akan belajar "berikhlash" di sepanjang waktu dengan disertai rasa syukur atas apa yang anda dapatkan sekarang.
maka jiwa dan hati anda kan lebih damai dan tenang. Maka raut wajah menjadi cerah dan hidup :D
Sunday, December 22, 2013
jalan ke bogor akhir tahun 2013
pada awal menjejeakkan kaki ke kota bogor, aku begitu gembira dan senang karena aku telah sampai ke suatu kota yang terkenal dengan kota hujan..
sejak aku kecil, [tepanya ketika aku SD] guruku mengajarkan kalau kota hujan itu ada di kota bogor, dimana disana juga ibu kota pemerintahan Indonesia pernah berpindah dari jakarta.
dan aku mengenal lagi cerita bogor itu dari guru fisika ku [guru kelas 2 SMA] waktu itu beliau bercerita ketika menempuh pendidikan S2 disana, dan dia menempati sebuah rumah sederhana bersama keluarga kecilnya, katanya untuk mendapatkan cahaya maka ada beberapa bagian di atap rumah beliau ditutup dengan kaca, jadi didalam rumah lebih terang walaupun tidak ada jendela.
Adayang menarik, kata beliau, suuatu ketika kaca-kaca tersebut pecah semua, awalnya beliau mengira jika ada-ada anak-anak iseng yang melemparkan batu, namun yang anehnya suara ribut seperti benda yang berjatuhan di genteng tidak juga berhenti, dari lubang-lubang atap tersebut bongkahan-bongkahan es masuk.
Dan ketika beliau keluar, ternyata di halaman rumah sudah di penuhi bongkahan es juga, ternyata suara tadi adalah suara "hujan es"
Hujan es, dari beliau lah aku mengenal kata hujan es di Indonesia yang negeri tropis ini.. aku jadi membayangkan bagaimana bentuk dan rupa hujan tersebut.
cerita itu menjadi fragmen tersendiri di dlam otakku, diantara percaya dan tidk percaya..
di awal tahun 2005 aku mendapat kesempatan untuk tinggal di kota hujan tersebut. Bogor.
dan aku begitu girang sekali karena aku akan "merantau", tinggal jauh dari kampung tercinta.
Sentul, desa yang terkenal karena sirkuitnya.
disitulah aku menetap, di sebuah asrama yang berstandr international. menarik :)
kembali dengan kota bogor.
disinilah aku mengenal kota yang bukitnya hanya ditanamin singkong.
gilaaa aja, singkong ditanam di berbukitan yang luas, aku jadi bingung bagaimana kalau hujan, dan siapa yang bakal menyerap air?
maka, tidak jadi heran jika masyarakat jakarta ketar-ketir kalau bogor di guyur hujan berhari-hari, dan Jakarta pasti banjir..
belum habis rasa bingungku, aku mulai merasakan bahwa kota bogor jauh berbeda dengan gambar yang ada diotakku dulu..
hal ini mungkin aku terlalu terbayang-bayangi oleh asrinya negeriku aceh...
ya.. memang bogor terkenal dengan sebutan Buitenzorg yang artinya "lepas dari segala kepenatan"..
tapi..
sangat berbeda dengan ayang aku rasakan..
jalanan terlalu padat di sebagian tempat, apalagi jika angkot, bus dan motor mulai tidak tertib.. semua bakal dijadikan jalan, termasuk trotoar,...
Pada tahun 2006, aku bekerja di sebuah pabrik garment dan tinggal di kawasan "tiga roda" namanya..
aku menempati kos-kosan yang hanya satu bilik saja, setiap bulannya aku menyetor sekitar 175 ribu rupiah, mahal memang, tapi tempatnya lumayan nyaman.
disana aku berkenal dengan seorang ibu dan putrinya novi yang berasala dari jawa tengah. dia begitu baik dengan aku dan beberapa anak kosan lainnya yang bekerja di tempat yang sama.
berkat beliau kami selalu akrab satu sama lainnya. bilik si ibuk menjadi based kami kala pagi tiba.
secangkir kopi panas dan roti seadanya tersedia diasana. dan kalau malam tentu saja nonton bareng dan gratis.. :D
di kosan itu juga aku mengenal beragam tingkah polah manusia.
meliahat laki-laki dan perempuan yang tinggal serumah tanpa ikatan, melihat keluarga yang bertatoo banyak, [dan aku selalu agak was-was ketika melewati bilik mereka], melihat ibuk kos yang punya rumah yang sudah tua dan pikun [sering berjalan-jalan di depan rumah sambil bernyanyi dan tertawa sendiri, tak begitu lama, karena segera di bawa pulang oleh pengasuhnya], mendengar seorang perempuan yang berteriak-terik ketika malam tiba karena di pukul olesh suaminya yang tentara, melihat sepasang suami istri yang bekerja banting tulang untuk menyekolahkan anaknya, melihat persaudaraan dan persahabatan, dll.
dan di kamar itu juga akumerasakan sebuah moment yang membuat aku kembali ke fragmen cerita masa SMA, yakni hujan es.
suatu sore kala aku hendak tidur karena hujan mengguyur lebat sekali beberapa hari di kota bogor. tiba tiba terdengar seperti suara lemparan batu ke atap kosan..
pertama-tema pelan, kemudian makin kencang dan merata. aku jadi penasaran, ketika aku membukakan pintu kamarku, tanpak bongkahan es dengan ukuran tak beraturan berjatuhan di tanah..
asiiiiilkkkkkkkkkkkkk hujan es ternyata.
tak bisa kubayangkan perasaanku saat itu, karena aku bisa merasakan hujan es yang terkenal itu.
menurut tetanggaku, hujan es sudah sangat lama tidak pernah terjadi lagi. Jika sedang hujan es, penduduk akan mengumpulkan bongkahan es tersebut dan menyimpannya di freezer kulkas.
dan akan di pergunakan sebagai obat ketika anak mereka sakit.
Hujan es bagi mereka akan membawa penyakit bagi anak-anak.
pada akhir tahun 2013, aku kembali bersilaturrahmi ke kota bogor, kembali berjumpa dengan beberapa sahabatku yang sudah lama tidak bersua.
dan Buintenzorg itu memang murni tidak pantas lagi di sandang oleh kota bogor..
maceeeetnya sangat parah sekarang, sampe benar-benar stuck...
terus, hotel semakin membanjiri di kota ini, banyak gedung-gedung pencakar yang mulai berdiri.
aku miris dan sedih melihat kota bogor yang sudah mulai berganti wajah, walaupun aku bukan penduduk kota bogor..
kesemerawutannya semakin memanas.
dan aku merasa bahwa kinerja walikota bogor belum berdampak apa-apa untuk masyarakat disana.
dan pada akhirnya tidak menarik untuk pergi kemana-mana.
hanya stay di rumah saja.. [kalah dengan macet..] ||
sejak aku kecil, [tepanya ketika aku SD] guruku mengajarkan kalau kota hujan itu ada di kota bogor, dimana disana juga ibu kota pemerintahan Indonesia pernah berpindah dari jakarta.
dan aku mengenal lagi cerita bogor itu dari guru fisika ku [guru kelas 2 SMA] waktu itu beliau bercerita ketika menempuh pendidikan S2 disana, dan dia menempati sebuah rumah sederhana bersama keluarga kecilnya, katanya untuk mendapatkan cahaya maka ada beberapa bagian di atap rumah beliau ditutup dengan kaca, jadi didalam rumah lebih terang walaupun tidak ada jendela.
Adayang menarik, kata beliau, suuatu ketika kaca-kaca tersebut pecah semua, awalnya beliau mengira jika ada-ada anak-anak iseng yang melemparkan batu, namun yang anehnya suara ribut seperti benda yang berjatuhan di genteng tidak juga berhenti, dari lubang-lubang atap tersebut bongkahan-bongkahan es masuk.
Dan ketika beliau keluar, ternyata di halaman rumah sudah di penuhi bongkahan es juga, ternyata suara tadi adalah suara "hujan es"
Hujan es, dari beliau lah aku mengenal kata hujan es di Indonesia yang negeri tropis ini.. aku jadi membayangkan bagaimana bentuk dan rupa hujan tersebut.
cerita itu menjadi fragmen tersendiri di dlam otakku, diantara percaya dan tidk percaya..
di awal tahun 2005 aku mendapat kesempatan untuk tinggal di kota hujan tersebut. Bogor.
dan aku begitu girang sekali karena aku akan "merantau", tinggal jauh dari kampung tercinta.
Sentul, desa yang terkenal karena sirkuitnya.
disitulah aku menetap, di sebuah asrama yang berstandr international. menarik :)
kembali dengan kota bogor.
disinilah aku mengenal kota yang bukitnya hanya ditanamin singkong.
gilaaa aja, singkong ditanam di berbukitan yang luas, aku jadi bingung bagaimana kalau hujan, dan siapa yang bakal menyerap air?
maka, tidak jadi heran jika masyarakat jakarta ketar-ketir kalau bogor di guyur hujan berhari-hari, dan Jakarta pasti banjir..
belum habis rasa bingungku, aku mulai merasakan bahwa kota bogor jauh berbeda dengan gambar yang ada diotakku dulu..
hal ini mungkin aku terlalu terbayang-bayangi oleh asrinya negeriku aceh...
ya.. memang bogor terkenal dengan sebutan Buitenzorg yang artinya "lepas dari segala kepenatan"..
tapi..
sangat berbeda dengan ayang aku rasakan..
jalanan terlalu padat di sebagian tempat, apalagi jika angkot, bus dan motor mulai tidak tertib.. semua bakal dijadikan jalan, termasuk trotoar,...
Pada tahun 2006, aku bekerja di sebuah pabrik garment dan tinggal di kawasan "tiga roda" namanya..
aku menempati kos-kosan yang hanya satu bilik saja, setiap bulannya aku menyetor sekitar 175 ribu rupiah, mahal memang, tapi tempatnya lumayan nyaman.
disana aku berkenal dengan seorang ibu dan putrinya novi yang berasala dari jawa tengah. dia begitu baik dengan aku dan beberapa anak kosan lainnya yang bekerja di tempat yang sama.
berkat beliau kami selalu akrab satu sama lainnya. bilik si ibuk menjadi based kami kala pagi tiba.
secangkir kopi panas dan roti seadanya tersedia diasana. dan kalau malam tentu saja nonton bareng dan gratis.. :D
di kosan itu juga aku mengenal beragam tingkah polah manusia.
meliahat laki-laki dan perempuan yang tinggal serumah tanpa ikatan, melihat keluarga yang bertatoo banyak, [dan aku selalu agak was-was ketika melewati bilik mereka], melihat ibuk kos yang punya rumah yang sudah tua dan pikun [sering berjalan-jalan di depan rumah sambil bernyanyi dan tertawa sendiri, tak begitu lama, karena segera di bawa pulang oleh pengasuhnya], mendengar seorang perempuan yang berteriak-terik ketika malam tiba karena di pukul olesh suaminya yang tentara, melihat sepasang suami istri yang bekerja banting tulang untuk menyekolahkan anaknya, melihat persaudaraan dan persahabatan, dll.
dan di kamar itu juga akumerasakan sebuah moment yang membuat aku kembali ke fragmen cerita masa SMA, yakni hujan es.
suatu sore kala aku hendak tidur karena hujan mengguyur lebat sekali beberapa hari di kota bogor. tiba tiba terdengar seperti suara lemparan batu ke atap kosan..
pertama-tema pelan, kemudian makin kencang dan merata. aku jadi penasaran, ketika aku membukakan pintu kamarku, tanpak bongkahan es dengan ukuran tak beraturan berjatuhan di tanah..
asiiiiilkkkkkkkkkkkkk hujan es ternyata.
tak bisa kubayangkan perasaanku saat itu, karena aku bisa merasakan hujan es yang terkenal itu.
menurut tetanggaku, hujan es sudah sangat lama tidak pernah terjadi lagi. Jika sedang hujan es, penduduk akan mengumpulkan bongkahan es tersebut dan menyimpannya di freezer kulkas.
dan akan di pergunakan sebagai obat ketika anak mereka sakit.
Hujan es bagi mereka akan membawa penyakit bagi anak-anak.
pada akhir tahun 2013, aku kembali bersilaturrahmi ke kota bogor, kembali berjumpa dengan beberapa sahabatku yang sudah lama tidak bersua.
dan Buintenzorg itu memang murni tidak pantas lagi di sandang oleh kota bogor..
maceeeetnya sangat parah sekarang, sampe benar-benar stuck...
terus, hotel semakin membanjiri di kota ini, banyak gedung-gedung pencakar yang mulai berdiri.
aku miris dan sedih melihat kota bogor yang sudah mulai berganti wajah, walaupun aku bukan penduduk kota bogor..
kesemerawutannya semakin memanas.
dan aku merasa bahwa kinerja walikota bogor belum berdampak apa-apa untuk masyarakat disana.
dan pada akhirnya tidak menarik untuk pergi kemana-mana.
hanya stay di rumah saja.. [kalah dengan macet..] ||
Subscribe to:
Posts (Atom)